Sektor Pariwisata Sumatera Utara merupakan salah satu sektor yang sangat terpukul dengan adanya Covid- 19 yang melanda dunia termasuk di Indonesia. Hal ini ditandai dengan banyaknya Travel Agent yang menerima pembatalan paket-paket wisata hingga bulan Juni 2020, serta tidak adanya permintaan untuk paket-paket wisata yang baru. Pembatalan ini tentunya dapat berkelanjutan apabila dampak penanganan Covid- 19 belum terselesaikan hingga akhir semester ini. Hal ini disampaikan oleh salah seorang pelaku Inbound Tour Sumatera Utara, Bapak Yulhendri dari PT. Sinergi Ravelino Tour and Travel.

Dampak dari pembatalan paket tur tersebut juga terkait dengan pramuwisata dan hotel, sehingga tingkat hunian kamar hotel di Kota Medan dan beberapa objek wisata lainnya menurun drastis serta pramuwisata tidak dapat melakukan guiding akibat tidak adanya tamu untuk dibawa ke tempat-tempat wisata. Hal ini juga berdampak terhadap objek wisata yang ada di Kab/Kota sehingga banyak yang tutup. Berdasarkan data yang diperoleh  dari Sekretaris PHRI Sumatera Utara Ibu Dewi, terdapat 23 hotel berbintang yang telah menutup operasionalnya. Adapun 23 hotel berbintang tersebut, yaitu:

  1. Garuda Plaza Hotel
  2. Dprima Hotel Medan
  3. Wisma Garuda
  4. Grand Lubuk Raya Hotel
  5. Hotel Danau Toba Internasional Medan
  6. Pardede Internasional Medan
  7. KAMA Hotel Medan
  8. Raz Hotel dan Convention Medan
  9. Hotel Syariah Grand Jamee Medan
  10. Putra Mulia Hotel
  11. Karibia Boutique Hotel
  12. Fave Hotel
  13. Grand Impression Hotel
  14. Sumatera Hotel
  15. Grand Melati Hotel
  16. Citi Inn Hotel
  17. Antares Hotel
  18. Swisbell Inn Hotel
  19. Jangga House Bake and Breakfast
  20. Hermes Palace Hotel
  21. Grand Kanaya Hotel
  22. Grand Delta Hotel
  23. Radisson Hotel

Hal ini apabila terus berkelanjutan akan semakin banyak hotel yang tutup dan berdampak terhadap perekonomian masyarakat secara luas, tidak hanya pada sektor Pariwisata, mengingat sektor Pariwisata memiliki lintas sektor yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif membagi 3 tahap pengelolaan mitigasi krisis Pariwisata dalam penanganan Covid-19 sesuai dengan standar World Tourism Organisation / UNWTO, yaitu :

  1. Tahap Tanggap Darurat (Maret – 29 Mei 2020)
  2. Tahap Pemulihan Paska Pandemi Covid- 19 (Juni – Desember 2020)
  3. Tahap Normalisasi (Januari – Desember 2021)

 

Kita berharap sektor pariwisata akan kembali menjadi penyumbang terbesar devisa bagi negara setelah masalah pandemi Covid- 19 ini ditangani dengan baik. Tentunya hal ini tidak menjadi tanggung jawab pemerintah semata tapi juga tangggung jawab seluruh lapisan masyarakat untuk dapat memutus mata rantai virus tersebut melalui Physical Distancing, mengikuti arahan protokol kesehatan, serta melakukan isolasi diri secara mandiri. Upaya yang telah dilakukan pemerintah pusat, provinsi, dan kab/kota yang sangat serius dalam mengatasi permasalahan ini akan menjadi lebih mudah apabila seluruh lapisan masyarakat juga memberi dukungan yang sangat baik.

 

#BERSAMAKITABISA